Friday, 14 October 2016

Hakikat Manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral

Hakikat Manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral
Setiap orang memerlukan materi. Pemilikan materi sebagai kondisi yang tidak dapat ditawar-tawar bagi perkembangan pola sosial yang diinginkan. Hal tersebut mendorong setiap orang untuk melakukan semua upaya untuk memperolehnya.
Moralitas dan spiritualitas tidak menuntut setiap orang untuk mengabaikan usaha dalam pemenuhan kebutuhannya dan berhenti untuk mendapatkan sesuatu yang sederhana. Sebaliknya, moral dan spritual justru menekankan dan mendorong setiap orang untuk berusaha secara baik.
Kita akan dapat hidup tentram bila kita bersikap sebagai makhluk sosial. Kita hidup berdampingan dengan masyarakat di sekitar kita. Kita pun sebagai makhluk ekonomi berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan cara-cara yang halal tidak melanggar hukum dan aturan agama.
Dengan begitu kita akan menikmati manfaatnya. Kita dihormati oleh masyarkat. Kebutuhan hiduppun terpenuhi.
Tidak sedikit orang yang bermasalah dalam kehidupan sosial dan ekonominya. Seorang pencuri adalah contoh makhluk ekonomi yang tidak bermoral. Seorang yang sombong juga merupakan contoh makhluk sosial yang tidak bermoral.
Semua itu akan merugikan dirinya sendiri. Akibat mencuri, pencuri itu akan ditangkap dan diberi hukuman. Kemudian, akibat kesombongannya, orang tersebut akan dikucilkan oleh masyarakat. Itu semua akan merugikan dirinya sendiri.

No comments:

Post a Comment